skip to Main Content

Mengenal Upacara Serepan Patalekan, Tradisi Sunda yang Mulai Menghilang

Sunda dikenal memiliki kekayaan budaya dan tradisi yang unik. Upacara Serepan Patalekan adalah salah satunya. Tradisi yang satu ini masih terus dilestarikan hingga saat ini, meskipun mulai menghilang di tengah zaman yang semakin modern. Yuk, kenali tradisi yang satu ini lebih jauh!

Baca juga : Mengenal Rampak Gendang, Budaya Sunda yang Mulai Redup

Apa Itu Upacara Serepan Patalekan?

Sumber foto: ayobandung.com

Serepan Patalekan merupakan sebuah upacara tradisional yang dilakukan oleh pesilat Paguron Panglipur. Tujuan dari upacara ini adalah untuk menguji kekuatan fisik dan mental para pesilat. Selain itu, upacara ini juga sering dijadikan sarana untuk melatih keuletan dan kesabaran. 

Serepan Patalekan tidak hanya merupakan ujian keterampilan bela diri semata, tetapi juga sebuah ritual yang mencakup aspek spiritual. Upacara ini melibatkan unsur-unsur alam semesta seperti air, bunga, tumbuhan, dan sesajian lainnya. Selain itu, gentong berisi air hasil pangjiad, gayung terbuat dari tempurung kelapa untuk membasuh murid dengan air, serta dua batang tebu panjang 40 cm yang disebut Tiwu juga menjadi bagian penting dalam ritual ini.

Sejarah Singkat

Upacara Serepan Patalekan memiliki sejarah yang kaya, dimulai dari penciptaannya oleh Abah Aleh pada tahun 1909. Abah Aleh bukan hanya seorang tokoh pencak silat, tetapi juga seorang pemimpin di Paguron Panglipur. Upacara ini menjadi bagian integral dari sistem pendidikan bela diri yang dikembangkan oleh Abah Aleh.

Pada tahun 1988, Serepan Patalekan mencapai tingkat kepopuleran internasional ketika dijadikan sebagai bagian dari atraksi dan promosi pencak silat di Amerika Serikat. Ini tidak hanya menjadi kebanggaan bagi Paguron Panglipur, tetapi juga membawa tradisi Sunda ke tingkat dunia.

Perkembangan Upacara Serepan Patalekan Sekarang

Meskipun memiliki sejarah yang kaya, Upacara Serepan Patalekan mengalami perkembangan dan perubahan seiring berjalannya waktu. Saat ini, upacara ini tidak hanya diadakan sebagai ujian tingkatan pesilat di Paguron Panglipur, tetapi juga sebagai ritual bagi murid yang dianggap telah menguasai jurus-jurus tertentu dan dianggap mumpuni.

Namun, sayangnya, seiring dengan modernisasi dan perubahan zaman, tradisi ini mulai menghilang. Perhatian terhadap pencak silat mungkin belum setinggi olahraga modern lainnya, dan dengan itu, Upacara Serepan Patalekan menjadi sebuah tradisi yang terancam punah.

Meskipun demikian, Paguron Panglipur tetap melakukan berbagai upaya untuk melestarikan Serepan Patalekan sebagai sebuah tradisi yang menjadi simbol kekuatan dan ciri khas warga Sunda. Mulai dari pelatihan yang diberikan kepada para pesilat muda dan sosialiasi mengenai Upacara Serepan Patalekan kepada masyarakat umum untuk mengenalkan tradisi ini kepada mereka.

Budaya Sunda Lain yang Sudah Hampir Punah

Serepan Patalekan bukan satu-satunya budaya Sunda yang terancam punah. Ini dia beberapa tradisi lain asli Sunda yang harus dilestarikan.

  • Sisingaan

Ini adalah kesenian tradisional yang berasal dari Subang, Jawa Barat. Sisingaan dimainkan oleh empat orang yang mengangkat patung singa yang terbuat dari kayu dalam acara-acara khusus seperti khitanan, pernikahan, atau menyambut tamu kehormatan.

  • Bajidoran

Berikutnya adalah bajidoran, sebuah pertunjukan seni yang melibatkan penari ronggeng yang berkomunikasi melalui gerakan tarian, disawer oleh pria yang disebut bajidor. Namun, Bajidoran mengalami penurunan popularitas, terutama karena pengaruh besar budaya asing. Hal ini menimbulkan ancaman terhadap kelangsungan tradisi ini.

  • Kuda renggong

Kuda renggong adalahh permainan yang sangat diminati oleh anak-anak. Pertunjukan yang menghibur ini menampilkan kuda yang dihias dan diiringi dengan musik. Namun kuda renggong dikenal memakan biaya yang cukup tinggi untuk satu kali pertunjukan, sehingga minat masyarakat mulai menurun.