skip to Main Content

Mengenal Upacara Adat Nyangku, Tradisi yang Mulai Menghilang dari Tanah Sunda

Upacara adat Nyangku merupakan sebuah tradisi yang berasal dari Jawa Barat, tepatnya Kabupaten Ciamis. Ini adalah kegiatan mencuci benda-benda puasaka yang hanya dilakukan di waktu tertentu. Yuk, simak ulasan lengkapnya! 

Baca juga : Mengenal Upacara Serepan Patalekan, Tradisi Sunda yang Mulai Menghilang

Mengenal Upacara Adat Nyangku

Sumber: Dinas Pariwisata Kabupaten Ciamis

Upacara adat Nyangku adalah salah satu tradisi masyarakat Sunda yang telah dilestarikan sejak zaman dahulu. Upacara ini merupakan ritual penyucian benda-benda pusaka, seperti kujang, tombak, golok, dan lain-lain. Upacara Nyangku biasanya dilakukan setahun sekali, pada bulan Maulud.

Sejarah Singkat

Upacara Adat Nyangku adalah tradisi yang memiliki akar dalam budaya Sunda, khususnya di wilayah Jawa Barat. Nyangku berasal dari bahasa Sunda yang berarti “bersih.” Tradisi ini merupakan serangkaian upacara yang dilakukan untuk membersihkan dan memuliakan tempat atau benda suci. Meskipun tradisi ini memiliki nilai historis yang tinggi, sayangnya, Upacara Adat Nyangku mulai meredup dan bahkan terancam punah seiring berjalannya waktu.

Tradisi Nyangku telah ada sejak zaman dahulu kala di masyarakat Sunda. Masyarakat setempat menjadikan upacara ini sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari untuk menjaga kesucian dan keseimbangan alam. Meskipun tidak banyak terdokumentasi secara tertulis, lisan dan praktik turun-temurun memastikan kelangsungan tradisi ini hingga saat ini.

Tujuan Upacara Adat Nyangku

Sumber: Visit Ciamis

Upacara adat Nyangku memiliki beberapa tujuan, yaitu:

  • Membersihkan dan merawat benda-benda pusaka.
  • Menghormati benda-benda pusaka sebagai peninggalan leluhur.
  • Menjauhkan benda-benda pusaka dari pengaruh negatif.
  • Meminta keselamatan dan kesejahteraan bagi masyarakat Sunda.

Pelaksanaan Upacara Adat Nyangku

Upacara adat Nyangku biasanya dilakukan di tempat-tempat keramat, seperti di pura atau di tempat-tempat yang dianggap sakral. Upacara ini biasanya dipimpin oleh seorang sesepuh adat atau seorang tokoh agama.

Upacara Nyangku dimulai dengan persiapan, yaitu mengumpulkan benda-benda pusaka yang akan dibersihkan. Benda-benda pusaka tersebut kemudian dibersihkan dengan air suci dan dibungkus dengan kain putih. Setelah itu, benda-benda pusaka tersebut dibawa ke tempat upacara. Di tempat upacara, benda-benda pusaka tersebut akan diarak mengelilingi tempat tersebut.

Setelah diarak, benda-benda pusaka tersebut akan dibersihkan kembali dengan air suci. Kemudian, benda-benda pusaka tersebut akan ditaruh di tempat yang bersih dan disucikan. Upacara adat Nyangku biasanya diakhiri dengan doa bersama. Doa bersama ini bertujuan untuk memohon keselamatan dan kesejahteraan bagi masyarakat Sunda.

Upacara Adat Nyangku yang Mulai Menghilang

Sayangnya, meskipun memiliki nilai budaya dan spiritual yang tinggi, Upacara Adat Nyangku kini mengalami tantangan untuk tetap bertahan. Berbagai faktor, seperti modernisasi, urbanisasi, dan perubahan nilai budaya, telah mengancam kelangsungan tradisi ini. Oleh karena itu, langkah-langkah pelestarian dan penyelamatan perlu diambil agar Upacara Adat Nyangku tetap dapat dinikmati oleh generasi mendatang. Melalui pemahaman dan apresiasi terhadap tradisi ini, masyarakat dapat turut berperan aktif dalam melestarikan kekayaan budaya dan spiritual Tanah Sunda.

Upacara Adat Lain yang Berasal dari Jawa Barat

Selain Nyangku, masih ada sejumlah upacara adat yang merupakan warisan budaya tanah Sunda. Antara lain adalah:

  • Upacara tradisional Babarit (Kabupaten Kuningan)

Upacara adat Babarit dilaksanakan sebagai ungkapan syukur kepada sang pencipta, terutama pada bulan Suro. Masyarakat Desa Sagarahiang terlibat dalam doa bersama, penyembelihan domba kendit, ziarah ke makam leluhur, dan mengakhiri upacara dengan Ujub-Ujub, yakni menyanyikan lagu-lagu Sunda buhun oleh sinden atau ronggeng.

  • Upacara Nadran (Indramayu-Cirebon)

Di Pantura Jawa Barat, nelayan di Kabupaten Indramayu dan Cirebon melaksanakan upacara adat Nadran, pesta laut sebagai ungkapan syukur atas hasil panen. Dilakukan setiap bulan Syuro atau masa along, Nadran awalnya terkait dengan musibah banjir Nabi Nuh AS. Pemangku kapalan memimpin upacara, dengan dana dari patungan nelayan untuk menghias desa, pertunjukan, pembuatan kapalan, dan sesajen. Sesajen berupa kepala kerbau, jerohan wedus oleh pemangku kapalan, dan pisang, kue, rokok, dan beras ketan hitam oleh nelayan. Upacara dimulai dengan melepas sesajen ke laut dan perebutan di tengah laut.

  • Upacara Siraman dan Ngalungsur Geni (Kabupaten Garut)

Di Desa Dangiang, Kabupaten Garut, upacara tradisional Siraman dan Ngalungsur Geni diwariskan secara turun temurun setiap tahun. Siraman artinya mencuci, Ngalungsur meneruskan, dan Geni adalah meriam bernama Guntur Geni. Upacara ini mencuci dan mewarisi kesaktian benda pusaka leluhur, menghormati mereka sebagai pendiri desa. Terdiri dari lima tahapan: ngalirap, membuka sejarah desa, ziarah kubur, mencuci benda pusaka di Sungai Cidangiang, dan doa bersama. Upacara ini merupakan bentuk penghormatan dan pelestarian tradisi leluhur.