skip to Main Content

Mengenal Senjata Kujang dan Sejarahnya

Kekayaan budaya Sunda selalu menarik untuk dibahas. Mulai dari tradisi yang masih dilestarikan hingga saat ini sampai senjata tradisional seperti kujang. Kujang sempat tenggelam dan menghilang setelah runtuhnya Kerajaan Pajajaran, namun kini kembali dilestarikan sebagai salah satu peninggalan budaya oleh masyarakata Sunda. Yuk, cari tahu lebih dalam tentang kujang, sejarahnya, dan perkembangannya saat ini.

Baca juga : Mengenal Kampung Budaya Sindang Barang, Napak Tilas Kasepuhan Sunda

Kujang, senjata tradisional Sunda

Sumber: tredmedia.com

Kujang adalah senjata tradisional yang berasal dari suku Sunda, Jawa Barat, Indonesia. Senjata ini memiliki bentuk yang unik dan sangat khas, sehingga menjadi ciri khas budaya Sunda. Kujang terbuat dari logam, biasanya besi atau baja, dan memiliki ciri khas berbentuk seperti sabit dengan ujung yang tajam. Pegangan Kujang terbuat dari kayu dan sering dihiasi dengan ukiran tangan yang rumit. Kujang dipercaya sebagai senjata yang sakti karena bisa menghalau musuh, menolak bahaya, serta menyembuhkan berbagai macam penyakit.  

Menurut penelitian, kujang berasal dari dua kata, yaitu “kudi” dan “hyang”. Kudi memiliki makna senjata sakti, sementara hyang adalah kekuatan dewa. Selain sebagai senjata, Kujang juga memiliki peran simbolis dalam kehidupan masyarakat Sunda. Senjata ini sering dianggap sebagai lambang kekuatan, perlindungan, dan juga kebijaksanaan. Kujang juga digunakan dalam berbagai upacara adat dan ritual keagamaan, menunjukkan betapa pentingnya senjata ini dalam budaya Sunda.

Sejarah kujang

Kemunculan kujang terjadi pada zaman Kerajaan Pajajaran, sekitar tahun 1170. Bentuk senjata kujang didesain oleh Mpu Windo Sarpo, Mercukunda, dan Ramayadi. Kujang tidak hanya dibuat sebagai senjata, namun juga untuk pemenuhan kebutuhan ritual dan pelengkap nilai-nilai kebudayaan Sunda kala itu. Wujud kujang pun mengandung sistem, tatanan, dan pemikiran masyarakat Sunda pada zaman tersebut. Kujang juga menjadi simbol status sosial dan pangkat, penghormatan kepada seorang pemimpin berjasa besar, dan nilai suatu ajaran.

Namun ada pula pendapat lain yang mengatakan bahwa kujang mulai dibuat pada abad ke-8 atau abad ke-9. Dalam versi sejarah ini, kujang adalah alat yang digunakan oleh petani dan peternak untuk melindungi diri dari serangan hewan buas. Kemudian kujang berkembang menjadi senjata untuk mempertahankan diri dari konflik antar suku.

Kujang juga menjadi senjata yang digunakan dalam masa penjajahan Belanda. Bahkan Pangeran Diponegoro disebut-sebut menggunakan kujang sebagai salah satu senjata dalam peperangan.

Meski terdapat dua versi berbeda mengenai sejarah kujang, senjata yang satu ini pada dasarnya memiliki makna yang sama. Yaitu sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari budaya Sunda,.

Kujang kini jadi kerajinan di Bogor

Sumber: bogorkotahijau

Kujang sempat terlupakan pasca runtuhnya Kerajaaan Pajajaran pada abad ke-16, dimana tidak ada seorang pun pengrajin yang membuat kujang. Memasuki tahun 1970-an, kerajinan kujang kembali ditemukan namun fungsinya adalah sebagai hiasan atau koleksi.

Tidak hanya itu, kujang juga menjadi ikon tersendiri bagi kota bogor, terbukati dengan pembangunan monumen atau Tugu Kujang pada tahun 1982. Replika senjata kujang raksasa diletakkan sebagai simbol di atas monumen yang lokasinya berada di samping Kebun Raya Bogor.

Di masa modern ini, kujang terlah berkembang sebagai simbol budaya yang masih terus dilestarikan oleh masyarakat Sunda. Banyak pengrajin di Bogor yang kini membuat kujang, menghiasinya dengan ukiran-ukiran motif tradisional Sunda yang cantik. Benda ini sering dijadikan cendera mata para wisatawan yang tertarik pada sejarah, juga sebagai koleksi di kalangan kolektor seni.