skip to Main Content

Mengenal Rampak Gendang, Budaya Sunda yang Mulai Redup

Selain memiliki daya tarik wisata dan pemandangan alam yang memukau, kekayaan budaya adalah satu hal yang tidak bisa dipisahkan dari Jawa Barat. Rampak Gendang menjadi salah satu seni prtunjukan khas Jawa Barat yang mengandung nilai-nilai budaya khas Sunda. Namun, meski memiliki sejarah dan tradisi yang sangat kuat, Rampak Gendang tidak luput dari perubahan zaman yang begitu cepat. Yuk, cari tahu lebih dalam mengenai kesenian yang satu ini.

Baca juga : Mengenal Senjata Kujang dan Sejarahnya

Apa Itu Rampak Gendang?

Sumber foto: Kompas

Rampak Gendang berasal dari dua kata yang punya makna berbeda. Secara harfiah, “Rampak” berasal dari bahasa Sunda yang artinya bersama atau serempak, sedangkan “Gendang” adalah salah satu instrumen gamelan yang sangat penting dalam pertunjukan ini. Jadi, “Rampak Gendang” bisa diartikan sebagai sebuah pertunjukan di mana beberapa pemain gendang memainkannya bersama-sama atau serentak. Ini adalah seni pertunjukan yang mengandalkan irama, gerakan, dan kolaborasi para pemainnya.

Rampak Gendang bukan hanya sebuah pertunjukan seni, tetapi juga merupakan representasi dari kebersahajaan dan nilai-nilai filosofis masyarakat Sunda. Ini mencerminkan semangat gotong-royong, keceriaan, dan harmoni, yang merupakan ciri khas budaya Sunda. Seni ini sering dimainkan dalam berbagai acara kebudayaan dan sering menjadi bagian penting dalam resepsi pernikahan Sunda.

Asal Usul dan Sejarah Rampak Gendang

Sumber foto: Indonesia Kaya

Menurut jabarprov.go.id, seni pertunjukan musik kreasi asal Jawa Barat ini merupakan hasil karya Gugum Gumbira. Rampak Gendang pertama kali muncul sekitar tahun 1980-an bersamaan dengan seni tari Jaipong. Pada awalnya, kendang digunakan sebagai musik pengiring dalam tarian Jaipong, tetapi seiring berjalannya waktu, seni ini berkembang menjadi sebuah pertunjukan yang lebih luas, menggabungkan unsur-unsur modern.

Kostum Penari Rampak Gendang

Dalam pementasan Rampak Gendang, penari mengenakan pakaian tradisional khas Sunda. Kostum ini sering kali terdiri dari takwa (baju panjang), udeng (ikat kepala), dan sinjang (sarung). Kostum tersebut sering dihiasi dengan motif khas daerah Sunda yang warna-warni, mencerminkan kekayaan budaya Sunda. Para penari juga memakai alas kaki yang sesuai dengan tariannya.

Jenis Rampak Gendang

Seni Rampak Gendang bisa dibedakan menjadi dua macam, yaitu Rampak Gendang Diri dan Rampak Gendang Duduk. Pada Rampak Kendang Diri, penampil berdiri dan menggunakan stik drum untuk memainkan dua kendang. Sementara itu, pada Rampak Kendang Duduk, para penari duduk dan memainkan tiga kendang dengan tangan mereka, menepuk kendang dengan ritme yang khas. Kedua jenis ini menunjukkan keragaman dalam penyajian seni Rampak Kendang, menggabungkan gerakan yang atraktif dengan irama yang memukau, menciptakan pengalaman seni yang mendalam dan beragam bagi penontonnya.

Cara Memainkan Rampak Gendang

Rampak Gendang melibatkan banyak gendang dengan bunyi pukulan yang hampir seragam, berbeda dengan Gendang Penca yang memiliki variasi bunyi yang lebih khas. Walau demikian, Rampak Gendang tetap terinspirasi oleh Gendang Penca, termasuk pukulan gendang Jaipong dari Karawang yang menjadi dasar bagi pertunjukan ini. Biasanya, pertunjukan Rampak Gendang digelar dalam resepsi di dalam gedung atau panggung khusus.

Setiap pemain memiliki tanggung jawab untuk memainkan gendang indung (besar) dan dua gendang kulanter (kecil). Mereka duduk di barisan belakang gendang mereka dengan penataan posisi yang memungkinkan penonton untuk melihat dengan jelas. Gamelan dan pengrawitnya berada di sekitar gendang atau di sebelahnya. 

Pertunjukan dimulai dengan aba-aba gending, lalu pemain gendang memainkan gendang secara bersamaan, selaras dengan komposisi musik dan gerakan tubuh yang serentak atau bergantian. Biasanya pertunjukan Rampak Gendang berlangsung selama tiga hingga sepuluh menit.