skip to Main Content

Angklung Gubrag: Menggali Keunikan dan Pesona Instrumen Tradisional Jawa Barat

Siapa yang tidak mengenal angklung, alat musik tradisional asal Jawa Barat yang sudah tersohor hingga ke luar negeri? Sebagai warisan budaya, angklung juga memiliki sejumlah varian yang berkaitan dengan kebudayaan khas daerah asalnya.  Di Jawa Barat, terdapat tujuh jenis angklung yang dikenal, seperti Angklung Baduy, Dogdog Lojor, Gubrag, Badeng, Buncis, Bungko, dan Soetigna. Tentu saja, perkembangan seni angklung telah mengalami pasang surut seiring berjalannya waktu. Namun, salah satu jenis angklung yang tetap bertahan hingga kini adalah Angklung Gubrag.

Yuk, kenali lebih dalam tentang kesenian yang satu ini!

Baca juga : Tradisi Obrog Berokan Khas Jawa Barat untuk Menyambut Lebaran

Apa itu Angklung Gubrag?

Foto oleh @kampungbudayasindangbarang

Angklung Gubrag termasuk ke dalam salah satu jenis angklung yang ditemukan oleh masyarakat Sunda. Ciri khas dari angklung ini adalah suaranya yang kuat dan bergema. Istilah “Gubrag” sendiri memiliki arti yang unik, berasal dari kata “gugur” yang artinya getaran atau bergemuruh.

Sama seperti angklung pada umumnya, Angklung Gubrag terbuat dari bambu, namun ukurannya lebih besar dan lebih panjang dibandingkan dengan angklung pada umumnya. Gema dan getaran yang dikeluarkan oleh Angklung Gubrag terdengar begitu mengesankan saat ditampilkan di atas panggung di acara-acara tertentu.

Pada zaman dahulu, Angklung Gubrag menjadi bagian dari tradisi sejumlah ritual adat, terutama yang berkaitan dengan kegiatan menanam dan memanen padi. Ritual dengan Angklung Gubrag ini memang merupakan wujud persembahan masyarakat adat Sunda untuk dewi padi.

Beberapa ritual yang melibatkan Angklung Gubrag adalah Melak Pare (menanam padi), Ngunjal Pare (mengangkut padi), serta Ngadiukeun ke Leuit (menempatkan padi lumbung).

Asal Usul Angklung Gubrag

Foto oleh @kampungbudayasindangbarang

Bagi masyarakat adat yang ada di Kampung Budaya Sindang Barang, Bogor, Angklung Gubrag lebih dari sekedar alat musik. Angklung Gubrag sudah sejak lama digunakan sebagai pelengkap untuk ritual dan upacara adat. Menurut legenda, desa tempat dimana Angklung Gubrag berasal pernah dilanda musibah kelaparan. Ketika itu, hasil panen selalu saja gagal sehingga tidak ada sumber pangan yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat.

Suatu ketika, tetua adat kemudian mengadakan ritual setelah menerima “petunjuk” khusus. Konon sang tetua dipercaya melihat adanya bayangan Angklung Gubrag yang jatuh dari atas. Kemudian Angklung Gubrag dijadikan sebagai bagian dari tradisi di masa tanam padi. Hasilnya panen pun sangat melimpah. Sejak saat itulah Angklung Gubrag selalu dimainkan ketika para petani mulai menanam padi. Sebelumnya, Angklung Gubrag juga dimainkan, namun hanya ketika masa penyimpanan padi ke dalam lumbung setelah masa panen tiba.

Cara Memainkan Angklung Gubrag

Foto oleh @kampungbudayasindangbarang

Angklung Gubrag biasanya dimainkan oleh sejumlah orang yang terdiri dari dewasa dan anak-anak. Dalam satu pertunjukan, para pemain biasanya memainkan sekitar 12 sampai 15 angklung. Setiap angklung memiliki nada yang berbeda, namun jika dimainkan secara bersamaan akan menghasilkan melodi yang harmonis, dengan suara yang menggema dan sangat indah.

Cara memainkan Angklung Gubrag pada dasarnya sama dengan angklung lainnya, yaitu dengan menggoyangkan angklung untuk menghasilkan melodi atau nada yang diinginkan. Namun untuk mendapatkan harmoni suara yang menarik, para pemain harus punya gerakan yang sinkron, sesuai dengan petunjuk pemimpin kelompok.

Fungsi Angklung Gubrag

Seiring dengan perkembangan zaman, Angklung Gubrag tidak lagi menjadi bagian dari upacara atau ritual adat, namun dilestarikan sebagai warisan budaya Sunda. Kini banyak pemain Angklung Gubrag berusia muda yang mulai belajar menekuni alat seni ini. Dengan demikian, Angklung Gubrag juga memiliki fungsi edukatif untuk mengenalkan generasi muda pada kekayaan budaya.